TIRTAYATRA LOMBOK 3HARI 2MALAM


View Aruna Bhuana in a larger map
request this package

Get the best deal by booking through Aruna Bhuana
or quick contact by phone at +62 89 666 777 488

TIRTAYATRA ke : Pura Gunung Sari, Pura Majapahit, Pura Suranadi, Pura Lingsar, Pura Narmada, Pura Mayura, Pura Meru, Pura Batu Bolong (Lombok)

Harga Paket      
Jumlah Peserta Min 02 Orang03 - 06 Orang07 - 10 Orang11 - 17 Orang18 - 30 Orang31 - 40 Orang
Hotel Bintang 2Rp. 3.638.000,- Rp. 3.298.000,- Rp. 2.498.000,- Rp. 2.248.000,- Rp. 2.088.000,- Rp. 1.998.000,-
Hotel Bintang 3Rp. 3.778.000,- Rp. 3.668.000,-Rp. 2.938.000,- Rp. 2.488.000,- Rp. 2.348.000,- Rp. 2.028.000,-
Hotel Bintang 4Rp. 3.888.000,- Rp. 3.828.000,- Rp. 2.998.000,- Rp. 2.688.000,- Rp. 2.488.000,- Rp. 2.338.000,-
Paket MekemitRp……. Rp……. Rp……. Rp……. Rp……. Rp…….

Penjelasan Harga :
  • Periode High Season : 01 Juni - 31 Juli (tambahan Biaya untuk Akomodasi dan Transportasi)
  • Periode Peak Season : 24 Desember - 05 Januari (tambahan Biaya untuk Akomodasi dan Transportasi)
  • Harga Berlaku ... sampai dengan 31 March 2016, (Perkiraan harga diatas dapat berubah sewaktu-waktu, dikarenakan perubahan dari Jasa Transportasi yang digunakan)
  • Harga diatas sudah termasuk Government Tax and Service Charges
  • Untuk Discount dan Perubahan Perjalanan dapatkan segera, dengan menghubungi kami di +62 89 666 777 488


  • Penjelasan tentang Pura yang dikunjungi :
    Tirta yatra dipahami dengan tangkil atau sembahyang ke pura-pura, dalam Kitab Sarasamuscaya 279 yaitu keutamaan tirtayatra itu amat suci, lebih utama dari pensucian dengan yadnya, Tirtayatra tidak memandang orang dalam status apapun baik kaya atau miskin asal didasarkan pelaksanaan bhakti yang tulus ikhlas, tekun, sungguh-sungguh. Nilai kesucian atau kualitas kesucian tirtayatra lebih utama dari pada membuat upacara banten, walaupun upacara itu tingkatannya utama dan Tirta Yatra atau Dharma Yatra adalah salah satu dari sad (enam) dharma, yaitu: Dharma Wacana: ceramah agama, Dharma Tula: tanya jawab agama, Dharma Gita: nyanyian agama, Dharma Sadhana: merealisasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, Dharma Santi: pertemuan untuk saling memaafkan kesalahan masing-masing serta berjanji untuk tidak membuat kesalahan lagi di kemudian hari dan Dharma Yatra (Tirtha Yatra): bepergian/ perjalanan agama
  • Pura Suranadi terletak di dalam komplek Taman Suranadi. Pura ini memiliki pola pura yang terpisah satu sama lain, yakni disesuaikan dengan keberadaan sumber mata air suci yang terdapat di lokasi tersebut. Walaupun terpisah secara fisik, namun dalam menjalankan rangkaian kegiatan ritual pura tersebut merupakan satu kesatuan yang tak bisa terpisahkan. Keberadaan Pura Suranadi erat kaitannya dengan lima mata air (Panca Tirta atau Pancaksara) yang ada di lokasi tersebut, yaitu Mata Air Toya Tabah, Mata Air Toya Pabersihan, Mata Air Toya Panglukatan, Mata Air Tirta, dan Mata Air Pangentas.
    Konon keberadaan Pura Suranadi terkait dengan perjalanan Danghyang Dwijendra, dikenal pula dengan nama Pedanda Sakti Wawu Rauh, menuju Sasak (Lombok) untuk kedua kalinya. Di Lombok, beliau dijuluki juga sebagai Pangeran Sangupati. Guna menjaga agar umat Hindu yang ditinggalkan bisa melakukan tertib upacara menurut ajaran agama yang telah ditentukan, lantas beliau dengan puja mantera-nya memunculkan lima mata sumber air di Suranadi.
    Adapun versi lainnya yang menyebutkan bahwa Pura Suranadi dibangun atas gagasan Raja Pagesangan bernama AA Nyoman Karang pada 1720 Masehi. Seorang pendeta dari Bali, cucu dari Danghyang Dwijendra yang bernama Pedanda Sakti Abah, dipanggil oleh Raja Pagesangan untuk melaksanakan panca yadnya, yakni lima macam pengorbanan suci menurut ajaran agama Hindu. Untuk melangsungkan kegiatan ritual tersebut maka dipilihlah Suranadi sebagai tempatnya.
    Pura Suranadi memiliki tiga buah kelompok pura. Masing-masing diberi nama sesuai dengan fungsi sumber air yang ada di dalamnya. Masing-masing pura itu memiliki area jaba sisi, jaba tengah, jeroan (tri mandala). Pura-pura tersebut, antara lain (1) Pura Ulon (Gaduh), yakni terletak di ujung timur laut, berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung Taman Wisata Alam, halaman Pura Ulon terdapat Mata Air Panglukatan dan Petirtan; (2) Pura Pangentas, terletak tidak jauh dari Pura Ulon ke arah barat daya, Pura ini dilengkapi dengan dua palinggih dan terdapat Mata Air Pangentas, Panembak, dan Tirta Mapepada, Pura ini difungsikan sebagai tempat mengambil air untuk upacara pitra yadnya; dan (3) Pura Pabersihan yang berlokasi sekitar 300 meter dari Pura Ulon, Pura ini memiliki Mata Air Pabersihan dengan beberapa macam palinggih dan bangunan pelengkap upacara.
  • Pura Narmada terletak di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat atau sekitar 10 kilometer sebelah timur Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Taman yang luasnya sekitar 2 ha(hektar are) ini dibangun pada tahun 1727 oleh Raja Mataram Lombok, Anak Agung Ngurah Karang Asem, sebagai tempat upacara Pakelem yang diselenggarakan setiap purnama kelima tahun Caka(Oktober-November). Selain tempat upacara, Taman Narmada juga digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga raja pada saat musim kemarau.
    Nama Narmada diambil dari Narmadanadi, anak Sungai Gangga yang sangat suci di India. Bagi umat Hindu, air merupakan suatu unsur suci yang memberi kehidupan kepada semua makhluk di dunia ini. Air yang memancar dari dalam tanah(mata air) diasosiasikan dengan tirta amerta(air keabadian) yang memancar dari Kensi Sweta Kamandalu. Dahulu kemungkinan nama Narmada digunakan untuk menamai nama mata air yang membentuk beberapa kolam dan sebuah sungai di tempat tersebut. Lama-kelamaan digunakan untuk menyebut pura dan keseluruhan kompleks Taman Narmada.
  • Pura Batu Bolong sebagai bagian dari perjalanan suci Dang Hyang Dwijendra, usai menyusuri pantai-pantai di Bali. Dikatakan, sebelum beliau ( yang disebut pula sebagai Ida Peranda Sakti Wawu Rauh) sampai di Batu Bolong, pertama kali memasuki kawasan Tanjung, Bukur dan Pura Kaprusan (Lombok Barat). Selanjutnya. setelah tiba di Batu Bolong, perjalanan beliau dilanjutkan ke Lingsar dan Suranadi. Pura Batu Bolong yang berhadapan dengan Selat Lombok dan Gunung Agung di Bali ini memiliki atmosfir spiritual yang mampu memberikan kedamaian dan ketenangan bagi para pemedek yang ngaturang bakti ke pura ini.
    Ikhwal yang paling menonjol peran beliau dalam penerapan konsep pembangunan pura di Bali maupun di Lombok adalah tentang perlunya dibangun sebuah pelingggih dalam bentuk Padmasana. Sebagai sthana Ida Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Pencipta).
    Di sebelah kiri areal (dekat jalan raya), terdapat bukit yang di atasnya berdiri Pura Pucaksari Melanting dengan beberapa pelinggih dan bangunan pelengkap, seperti Palinggih Pasimpangan Gunung Agung, Pasimpangan Gunung Rinjani, Pasimpangan Ayu Mas Melanting dan Bale Pawedan. Di sekeliling, selain pantai nan elok, juga beragam pepohonan tumbuh di areal dekat pura. Seperti pohon beringin (di Jaba Sisi), bunut, celagi (asem), waru (di tepi pantai), pule, dan lain- lain.
    Memasuki areal pura, orang akan menuruni tangga terlebih dulu, sebelum melewati beberapa pelinggih yang berdiri di sekitar jalan setapak menuju puncak Pura Batu Bolong. Saat pertama, di sisi kiri jalan yang dilalui, ada dua pelinggih (dalam satu penyengker). Yang lebih dekat dengan pintu masuknya, berdiri (menghadap ke selatan), palinggih Betara Bagus Balian. Di sisi kiri dari pelinggih itu (menghadap ke barat) ada pelinggih Pengayengan Ratu Gde Mas Mecaling. Pada sisi kirinya, berjejer Bale Pewaregan dan Bale Pakemit. Melewatinya, di sebelah kanan jalan setapak terdapat Bale Pawedan dan Bale Pengodal. Menyusul di belakang Pelinggih Pangelukatan (dasar palinggih-nya bersentuhan dengan air laut). Seberang kanannya ada Palinggih Pelawangan. Setelah melewati bangunan-bangunan suci inilah, orang bisa menyaksikan lebih dekat onggokan batu karang besar, berlubang menjulang vertikal.
    Di sebelah batu berlubang/bolong itulah tersedia undag-undag. Naik menuju hulu atau bagian atas batu karang. Tempat di mana terdapat Padmasana, pelinggih Batara Ayu Mas Lingsir Batu Bolong, palinggih Batara Bagus Lingsir Batu Bolong. Juga pelinggih Batara Sakti Wawu Rauh dan (di atas tebing yang paling ujung-menjorok ke laut) pesimpangan Petirthan.

    Program Perjalanan :
  • HARI 1 : Pura Gunung Sari – Pura Majapahit – Check In hotel (MM)
    Tiba di Lombok dengan pesawat dari Bali, Program Tirta Yatra akan di awali persembahyangan di Pura Gunung Sari yang merupakan saksi sejarah Kerajaan Karangasem dan terdapat Linggih/stana Ida Betara lingsir Gunung Agung. Kemudian dengan berjalan kaki, pemedek menuju Pura Majapahit untuk melihat invansi pada jaman kerajaan Majapahit ke Lombok. Selanjutnya menuju Hotel untuk Check In, Acara bebas. Makan Malam di Restoran
  • HARI 2 : Pura Suranadi - Pura Lingsar - Pura Narmada - Pura Mayura - Pura Meru - Pura Batu Bolong (MP/MS/MM)
    Setelah makan pagi di hotel kemudian pemedek melakukan Penglukatan di kolam suci dari mata air Gunung Rinjani dan persembahyangan di Pura Suranadi. Dilanjutkan menuju Pura Lingsar (Pura tertua di Lombok) dan menuju ke salah satu Pura peninggalan A.A. Gede Karangasem yang berlokasi di Taman Narmada / Pura Narmada untuk nunas Tirta, selanjutnya Makan Siang. Setelah itu di lanjutkan ke Pura Mayura (pengadilan pada jaman pemerintahan Karangasem tahun 1744).
    Pura Meru (simbolisasi Tri Murthi (Brahma, Wisnu, Siwa) dan sekaligus simbolisasi Gunung Agung di Bali), Serta mengunjungi Warisan Dang Hyang Dwijendra / Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh di Pura Batu Bolong pada senja hari saat matahari tenggelam. Kembali ke hotel dan acara bebas sampai waktu Makan Malam.
  • HARI 3 : Check Out – Air Terjun Otak Kokok (MP/MS)
    Setelah menikmati sarapan di hotel, perjalanan di lanjutkan dengan menuju Air terjun Otak Kokok yang di mana peserta akan menikmati keindahan air terjun yang dikenal dan dipercaya dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Makan Siang di Restaurant. Setelah itu peserta akan diantar kembali menuju Bandara, terbang dengan pesawat ke Bali

    Harga Termasuk :
  • 3 hari 2 malam akomodasi untuk sekamar berdua.
  • Makan Pagi, Makan Siang, dan Makan Malam sesuai dengan jadwal diatas.
  • Tiket masuk ke obyek – obyek wisata.
  • Transportasi AC dengan Supir dan pemandu wisata/ guide yang profesional.
  • Air mineral selama perjalanan.
  • Tiket parkir dan retribusi.
  • Pejati dan sarana persembahyangan.

    Harga Tidak Termasuk :
  • Tiket Pesawat dan Airport Tax.
  • Dana Punia di Pura – Pura.
  • Tip pemandu lokal.
  • Peralatan sembahyang.
  • Peralatan dokumentasi.
  • Dan Pengeluaran lain yang tidak tercantum dalam program.

    Tips Perjalanan untuk Anda :
  • Bawalah pakaian persembahyangan lebih dari satu dikarenakan ada prosesi penglukatan atau pembersihan di beberapa Pura.
  • Bawalah pakaian santai juga.
  • Bawalah uang tunai dalam pecahan kecil untuk dana punia.
  • Mengingat ATM tidak terlalu banyak, persiapkan uang tunai dalam jumlah yang cukup.

  • other packages